Fakta menyebutkan bahwa Indonesia kaya akan sumber daya alamnya baik di sektor darat maupun sektor laut, tapi fakta juga yang menyebutkan bahwasebagian besar penduduk Indinesia hidup di bawah garis kemiskinan. Bagaimana itu bisa terjadi ???
Potensi Indonesia sebagai negara agraris dan maritim sangat besar, tapi sampai sekarang belum banyak yang dapat menikmati kekayaan alam yang dimiliki itu.
Kalau kita lihat potensi laut Indonesia yang kaya akan ikan, terumbu karang, mutiara maupun keragaman hayati-nya, itu semua lebih dari cukup untuk menghidupi berjuta2 nelayan di Indonesia. Akan tetapi kenyataan yang kita hadapi sekarang ini mengapa negara Indonesia yang memiliki potensi sangat besar diberbagai sektor rakyatnya kebanyakan orang miskin?
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2008, penduduk miskin di indonesia mencapai 34,96 juta jiwa dan 63,47 persen % di antaranya adalah masyarakat yang hidup di kawasan pesisir dan pedesaan. Di sisi lain pengelolaan dan pemanfaatan potensi sumber daya kelautan dan pesisir selalu beriringan dengan kerusakan lingkungan dan habitat seperti terumbu karang dan hutan mangrove, dan hampir semua eksosistim pesisir Indonesia terancam kelestariannya.
Bila dilihat dari sudut pandang Optimalisasi Sumber daya alam memang ternyata Indonesia belum mampu untuk mengoptimalkan potensi yang ada, apakah itu dari segi teknologi maupun dari segi sumber daya manusianya. Indonesia masih menggantungkan kekayaan alamnya terhadap investasi dari bangsa asing. Padahal kalau semua sumber daya alam itu dapat kita olah sendiri, tak dapat dibayangkan berapa besar keuntungan yang dapat kita peroleh. Akan tetapi, sekarang ini sebagian besar kekayaan alam di Indonesia dikuasai oleh asing, sedangkan Indonesia hanya mendapatkan beberapa persen kecil saja dari hasil yang didapat oleh asing. Lantas, sekarang apa yang harus kita lakukan ??
Memperbaiki kualitas Sumber Daya Manusia adalah salahsatunya. Kita harus memiliki sumber daya manusia yang benar2 dapat mengolah seluruh kekayaan alam di Indonesia demi kesejahteraan rakyat dan bangsa ini. Di dalam hal ini, peranan pemerintah sangat penting guna membentuk sebuah generasi yang cerdas dan dapat mengoptimalkan seluruh potensi negara ini.
Pendidikan yang masih relatif mahal merupakan penyebab utama rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia karena tidak semua rakyat Indonesia dapat megenyam pendidikan yang layak. Padahal kita semua tahu bahwa pendidikan adalah hak semua orang tanpa terkecuali.
Keadaan Nelayan Di Indonesia
Nelayan di Indonesia sebagian besar adalah orang2 pengenyam pendidikan yang rendah yang diakibatkan ketidakmampuan di dalam kehidupan ekonomi mereka. Padahal kita semua tahu bahwa laut Indonesia kaya akan ikan dengan ragam dan jenis yang banyak sekali. Akan tetapi karena rendahnya kualitas sumber daya manusia dari para nelayan itu menyebabkan ketidakmampuan para nelayan untuk memaksimalkan penghasilan mereka. Banyak nelayan yang masih menggunakan bahan beracun hanya untuk menangkap ikan sebagai penyambung hidup mereka, padahal jelas2 bahan beracun tersebut sangat berbahaya dan dapat merusak ekosistem yang ada di dalam laut. Kekurangan mereka didalam sektor ekonomi pun menyebabkan mereka jarang melaut karena tingginya harga bahan bakar sebagai modal utama mereka melaut. Peranan pemerintah dalam menentukan kebijakan mengenai bahan bakar untuk para nelayan ini sangat dibutuhkan demi kelangsungan hidup para nelayan dan keluarga mereka. Akan tetapi kebijakan pemerintah saat ini, tidak banyak yang memihak para nelayan. Kenyataan lainnya kurangnya penguasaan teknologi yang dimiliki oleh para nelayan. Ikan cepat mengalami proses pembusukan dibandingkan dengan bahan makanan lain. Oleh karena itu, diperlukan teknologi pengawetan yang baik. Selama ini, nelayan hanya menggunakan cara yang tradisional untuk mengawetkan ikan.
Selain hal diatas yang turut serta menjadi kendala meningkatnya taraf kehidupan masyarakat nelayan kita adalah Pemasaran hasil tangkapan yang belum terkoordinir dengan baik karena tidak semua pesisir memiliki tempat pelelangan ikannya sendiri. Hal tersebut membuat para nelayan menjual hasil tangkapannya kepada para tengkulak dengan harga yang sangat jauh dibandingkan harga pasaran sebenarnya.
Padahal sebenarnya untuk mengatasi maslah tersebut mengapa tidak seluruh potensi kekayaan laut di olah/ di optimalisasi oleh pemerintah sendiri dengan nelayan sebagai tenaga kerja-nya sehingga semua kegiatan kelautan dari mulai penangkapan ikan sampai ke pengolahan dan pemasaran dapat terkoordinasi dengan baik dan kita bisa mendapatkan hasil yang lebih maksimal. Hal tersebut diatas juga dapat mengurangi tingkat pemakaian bahan-bahan terlarang untuk menangkap ikan seperti zat beracun dll. Karena seluruh fasilitas/sarana untuk melaut disediakan oleh pemerintah sendiri dan pemerintah pun jua yang mengatur pemasaran seluruh hasil tangkapan.
Halaman
......................................................................
Kamis, 24 Juni 2010
Potensi Laut Indonesia oleh: Fikry I.R.P
Selasa, 22 Juni 2010
Minat Baca, Siapa Peduli?
Artikel ini saya ambil karena menurut saya isinya sangat bagus untuk kita terutama kalangan pelajar didalam menghadapi derasnya arus teknologi.
Menyambut Hari Buku Nasional 17 Mei 2008
Minat Baca, Siapa Peduli?Oleh Hikmat Kurnia
Dunia perbukuan Indonesia memang berkembang. Jumlah buku yang diterbitkan semakin bertambah. Walaupun belum ada data pasti tentang jumlah buku baru yang terbit da;am setahun, namun mengacu kepada jumlah buku yang diterima jaringan toko buku besar, seperti Gramedia dan Gunung Agung, setidaknya Indonesia mampu menerbitkan 12.000 judul buku baru dalam setahun. Jumlah tersebut tidak termasuk buku yang cetak ulang dalam tahun yang sama. Dengan rata-rata tercetak untuk satu judulnya 3.000 eksemplar, maka setidaknya para penerbit Indonesia mampu menghasilkan 36.000.000 eksemplar buku dalam setahun.
Secara jumlah ilustrasi tersebut kelihatannya tergolong besar. Namun, jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang berjumlah 250.000.000 orang, angka itu sangat memprihatinkan. Jika semua buku tersebut habis terserap pembaca, maka satu buku dikonsumsi oleh 6 sampai 7 orang dalam setahun. Celakanya, perbandingan tersebut belum dianggap mewakili, karena pola distribusi buku di Indonesia yang kurang merata. Toko-toko buku yang memadai sangat terkonsentrasi pada kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Jogyakarta, Semarang, dan lain-lain. Bahkan, jika memperhitungkan daya serap pasar, lebih dari 40% buku diserap oleh pembaca yang ada di wilayah Jabodetabek.
Dari data tersebut bisa dipahami hasil temuan UNDP tentang minat baca masyarakat Indonesia. Berdasarkan hasil temua UNDP, posisi minat baca Indonesia berada di peringkat 96, sejajar dengan Bahrain, Malta, dan Suriname. Untuk Kawasan Asia Tenggara, hanya ada dua negara dengan peringkat di bawah Indonesia, yakni Kamboja dan Laos. Masing-masing berada di urutan angka seratus. Apa pun alasannya, posisi Indonesia yang terlalu rendah dalam minat baca ini tentu sangat memprihatinkan bagi bangsa yang mengklain sebagai bangsa besar.
Oleh sebab itu, perlu ada upaya konkret dalam meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia. Sebagai langkah awal, bisa dikembangkan dari lingkungan keluarga, kemudian beralih ke lingkungan yang lebih luas di masyarakat. Untuk meningkatkan minat baca ini ada baiknya kita meniru budaya yang dikembangkan Jepang. Di sana ada gerakan 20 minutes reading of mother and child. Gerakan ini mengharuskan seorang ibu mengajak anaknya membaca selama 20 menit sebelum tidur. Gerakan ini bisa sangat efektif jika didukung oleh kesadaran yang tinggi, ketersedian buku yang memadai (termasuk kemudahan mendapat buku yang cocok), dan dukungan dari berbagi pihak.
Faktor lainnya yang perlu didorong adalah pola kebiasaan keluarga menghabiskan akhir pekannya. Keluarga Indonesia harus didorong untuk lebih memilih jalan-jalan ke toko buku atau perpustakaan, sehingga lebih mengasah intektulitas dan akrab dengan buku.
Minimnya pemberitaan tentang orang-orang yang berhasil karena membaca buku ikut menjadi factor penting rendahnya minat baca. Hal lain yang perlu dikritik adalah rendahnya pemberian penghargaan pada karya intelektual. Hal ini ikut mendorong masyarakat malas berkarya dan membaca.
Hari Buku Nasional
Memperhatikan banyaknya faktor yang mempengaruhi lemahnya minat baca ini, mau tidak mau semua elemen perbukun harus berupaya melakukan langkah konkret dalam mewujudkan generasi gemar membaca.
Ikapi sebagai organisasi yang berada di garda terdepan dalam pengembangan perbukuan Indonesia merasa perlu untuk melakukan kampanye pentingnya buku dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai titik tolaknya, Ikapi telah mempelopori untuk mencanangkan 17 Mei sebagai Hari Buku Nasional.
Dengan dicanangkannya 17 Mei sebagai Hari Buku Nasional, maka setiap tahun Ikapi akan terus berupaya menjadikan buku sebagai bagian dari gaya hidup. Untuk tahun ini perayaan Hari Buku Nasional akan ditunjukkan untuk mendorong kalangan perbukuan, baik penulis, penerbit, editor, illustrator, desainer, distributor, toko buku dan lain-lain, memberi penyadaran (awarness) pada masyarakat Indonesia tentang pentingnya buku.
Jika buku sudah menjadi gaya hidup, masyarakat tidak lagi berjarak dengan buku. Posisi buku pun sudah dianggap sebagai kebutuhan sehari-hari. Dengan begitu, masyarakat tidak lagi menyikapi buku dengan kening berkerut, karena setiap kalangan, profesi, usia, atau latar belakang lainnya mempunyai buku masing-masing. Artinya, buku tidak lagi dipandang secara elitis yang ditulis, diterbitkan, dan dibaca oleh kalangan tertentu. Buku jadinya milik semua orang.
Dengan mimpi menjadikan buku sebagai milik semua orang, perayaan Hari Buku Nasional tahun ini, Ikapi Jaya berkerja sama dengan Perpumda DKI Jaya merencanakan untuk menggelar tiga kegiatan konkret. Kegiatan pertama, pembagian minimal 1.000 stiker, blocknote, dan pulpen dengan tulisan yang mendorong pentingnya minat baca bagi pengendara mobil dan motor yang melintas di Bundaran Hotel Indonesia dan tempat-tempat lain yang strategis. Demo simpatik ini bertujuan menggugah masyakarat tentang pentingnya minat baca. Pada moment ini diharapkan berbagai kalangan, khususnya pegiat perbukuan terlibat secara nyata.
Kegiatan kedua, adalah pembagian minimal 1.000 buku bagi rumah-rumah baca yang berada di wilayah Jabodetabek. Acara ini ditunjukkan untuk memberi contoh konkret bahwa penerbit yang bergabung Ikapi dan Perpumda DKI Jaya adalah organisasi yang sangat peduli bagi berkembangnya minat baca masyarakat, teruatama masyarakat kurang beruntung. Dalam acara ini peran serta penerbit yang mempunyai buku yang masih baik tetapi tidak layak jual sangat dibutuhkan, karena dari penerbitlah sumber buku bisa diperoleh. Ini juga semacam CSR bagi kalangan penerbit.
Cara lainnya untuk untuk mendorong minat baca adalah dengan memberikan keterampilan menulis bagi masyakarat. Selama ini masyakat Indonesia dalam bidang perbukuan lebih banyak berperan sebagai konsumen saja. Hanya menjadi pembaca. Padahal, untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia juga harus didorong untuk memiliki keterampilan menulis. Asumsinya, untuk menulis satu buku, setidaknya seoarang penulis membutuhkan lima buku pembanding, referensi, atau bahan bacaan. Oleh sebab itu, kegiatan ketiga yang akan digelar dalam Hari Buku Nasional tahun ini adalah Bengkel Penulisan Buku bagi 300 orang, terutama pelajar dan Mahasiswa secra gratis. Kegiatan ini dipertlukan untuk mendekatkan pelajar dan mahasiswa dengan kalangan perbukuan.
Perlu disadari peringatan Hari Buku Nasional hanyalah salah satu langkah pengembangan minat baca masyarakat Indonesia. Kegiatan tersebut tidak akan berarti apa-apa tanpa konsinsensi dan keterlibatan banyak pihak. Rasanya, kalau semua pihak perbukuan, termasuk pemerintah menyadari pentingnya minat baca, posisi Indoinesia dalam minat baca akan tergerek naik. Semoga.
